Kajian Biodesinfektan Dari Ekstrak Sentigi (Pemphis acidula) Sebagai Alternatif Pengganti Klorin Dalam Industri Pengolahan Udang
DOI:
https://doi.org/10.15578/jpbkp.v1i2.398Kata Kunci:
Pemphis acidula, ethnomedicinal plant, antibacteria, biodisinfectantAbstrak
Sentigi (Pemphis acidula) merupakan tanaman obat tradisional yang berasosiasi dengan mangrove. Kulit batangnya digunakan sebagai obat sariawan oleh penduduk Pulau Pari. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas ekstrak sentigi dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Vibrio carchariae. Penelitian juga melaporkan Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak metanol terhadap Artemia salina dan efektivitas ekstrak dalam mereduksi jumlah bakteri pada udang. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol kulit batang sentigi dengan rendemen sebesar 15,9% dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus, E. coli dan V. carchariae. Pada konsentrasi antara 50‑60 ppm, esktrak metanol sentigi dapat menghambat pertumbuhan bakteri setara dengan penggunaan klorin (Ca(OCl)2) 10 ppm. Ekstrak metanol sentigi memiliki toksisistas yang rendah terhadap Arternia salina dengan LC50 (24 jam) sebesar 94 ppm. Konsentrasi efektif penggunaan esktrak sentigi sebagai bahan desinfektan pengganti klorin adalah 50‑60 ppm. Penelitian lanjut sedang dilakukan untuk mengidentifikasi (struktur elusidasi) bahan antibakteri yang dikandung ekstrak metanol sentigi.Unduhan
Diterbitkan
2007-11-18
Terbitan
Bagian
Artikel
Lisensi
Ketentuan Transfer Hak Cipta
Penulis dalam melakukan submisi secara daring memahami bahwa apabila naskahnya diterima untuk dipublikasi maka hak cipta dari naskah tersebut akan diberikan kepada Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan sebagai penerbit jurnal.
Hak cipta mencakup hak ekslusif untuk mereproduksi dan mendistribusi artikel dalam semua bentuk media, termasuk cetak ulang, foto, mikrofilm, dan reproduksi serupa lainnya, serta terjemahannya.